H. Ahmiyul Rauf : Terus Bekerja, Selagi Dipercaya

Pekanbru – Dihitung sejak saya bekerja sebagai Ahli Geologi, dan berpindah-pindah ke berbagai perusahaan, saya sudah menjalani pensiun sebanyak 4 kali. Untuk pertama kali saya melamar pekerjaan tahun 1974 yaitu pada PT. Caltex Pacific Indonesia. Walaupun lamaran saya ditolak waktu itu, namun pada akhirnya saya masuk juga ke Caltex setelah lulus UGM pada tahun 1981. Dan saya memutuskan pensiun pertama kali pada tahun 2005, setelah duapuluh empat tahun di Caltex.

Karena pada waktu itu saya mendapat kepercayaan untuk menjabat salah satu posisi pimpinan pada PT. BSP. Setelah berjalan dua tahun, karena alasan-alasan karir dan masa depan keluarga, saya menerima kepercayaan yang diberikan Petronas Kualalumpur sebagai Staf Ahli Geologi, sehingga saya pindah ke perusahaan tersebut pada tahun 2007. Berjalan 8 tahun di Petronas, ketika posisi saya tidak diperlukan lagi, ditambah dengan alasan harga minyak jatuh pada tahun 2014, saya kembali ke tanah air pada tahun 2015. Itu adalah pensiun saya yang ketiga.

Kembali ke Tanah Air, Gubernur Riau ketika itu mempercayai saya untuk memimpin daerah PT. SPR pada tahun 2015. Kepercayaan dari Gubernur Riau kepada saya tentu beralasan, karena berdasarkan pengalaman panjang profesional dan kemampuan saya.

Secara khusus, dalam tulisan ini saya ingin menukilkan pentingnya aspek kepercayaan (“trust”) ketika suatu amanah diberikan kepada kita sehingga kita bisa bekerja menjalankan amanah tersebut, dalam hal ini bagaimana saya dapatkan kepercayaan itu dari seorang Gubernur sebagai penguasa suatu BUMD. Kronologinya berawal ketika saya ditelfon oleh seorang “teman”, yang dulu satu kantor di Caltex. Jadi kepercayaan yang timbul secara individual antara dia dan saya banyak terbangun semasa kita bersama-sama di Caltex.

Telpon yang saya terima pada sore itu, berdering ketika saya sedang menulis CV karena saya sedang menghabiskan hari-hari terakhir di Petronas. Katika itu dia menawarkan kepada saya satu posisi di perusahaan daerah bila nanti sudah berada kembali ke tanah air. Ketika itu dia mengatakan bahwa ini baru pemberitahuan awal. Walaupun belum pasti, sebagai informasi awal tawaran itu sangat menggembirakan.

Beberapa hari setelah itu, ketika saya sudah bersiap-siap tidur sehabis sholat tarawih, anak saya yang mendengar telpon mendering dan segera mengangkatnya. Namun sayang, ketika telpon itu saya ambil sambungan telah terputus dan saya lihat nama yang menelfon adalah teman saya yang tadi menawarkan pekerjaan. Saya tidak berusaha callback karena khawatir itu hanya sebuah miscall. Namun beberapa saat setelah itu, telpon saya berdering lagi, langsung saya angkat. Ternyata di sebelah sana langsung menyapa dan bertanya apakah saya memang jadi pulang ke Riau. Tentu saja saya mengiyakan. Namun yang mengejutkan saya, dia seolah-olah mendesak saya untuk segera pulang walaupun saya sudah membuat jadwal. Dan saya mendengarkan “nada” kecewa ketika saya katakan bahwa saya tidak bisa merubah jadwal itu. Ketika dia terus mendesak bahkan dengan jaminan tiket pulang-pergi, saya mengatakan tetap tidak bisa karena paspor saya sedang dalam proses imigrasi. Ketika itu dia mengatakan bahwa dia ingin memastikan saya memang pasti pulang, karena gubernur Riau sudah menyiapkan posisi sebagai pimpinan di suatu BUMD, dan ketika dia menelpon Gubernur sedang mendengarkanya.

Malam itu saya seolah mendapatkan jawaban untuk satu pertanyaan sulit teman-teman di Malaysia, bahwa nanti saya akan mendapatkan kepercayaan memimpin suatu BUMD, dengan keyakinan didasarkan pembicaraan telpon di tengah malam itu.

Pertemuan saya dengan pak Gubernur baru terjadi pada waktu lebaran hari pertama setelah saya pindah ke Riau. Sebelumnya tidak pernah bertemu. Tidak seperti biasanya ketika hari pertama lebaran orang-orang banyak datang ke acara “open house”. Namun saya dijadwalkan khusus oleh ajudan untuk datang pada waktu yang akan ditentukan, jadi menunggu panggilan. Itulah hari pertama dalam waktu-waktu lebaran, saya tidak bisa kemana-mana karena menunggu panggilan yang ternyata datang beberapa jam menjelang maghrib. Saya datang bersama teman ex-Caltex tadi, yang ternyata teman sekelas Pak Gubernur. Ketika kami datang pada wkatu yang ditentukan, tamu-tamu sudah sepi dan kami berdua adalah tamunya yang terakhir. Rupanya hanya untuk sekedar bersalaman, dan berjanji jumpa lagi di rumah pribadinya pada saat solat maghrib.

Rupa-rupanya, Pak Gubernur bukan bermaksud untuk mengundang acara open house, tapi lebih dari itu beliau ingin mengenal sekaligus mewawancarai saya untuk jabatan yang dia janjikan. Amanah yang saya terima adalah agar bekerja lurus-lurus saja. Rupanya, itulah mandat yang saya dapat dari Pak Gubernur yaitu memimpin suatu BUMD, yang mengoperasikan ladang minyak. Dan yang terpenting: saya dinilai bisa bekerja lurus-lurus saja.

Singkat cerita, setelah saya terima amanah itu boleh dikata tak pernah berjumpa lagi dengan beliau. Selama dua tahun perjalanan karir saya di BUMD tersebut, banyak perbaikan-perbaikan yang terjadi. Setelah itu saya dipensiunkan dengan hormat. Pensiun yang ke-empat kalinya.

Sampai sekarang saya terus bekerja dengan jabatan apa saja. karena saya selain dari bekerja secara profesional, saya juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan baik itu di lingkungan masjid, di tengah-tengah masyarakat bertetangga, serta organisasi profesi dan alumni. Tidak terkecuali saya juga berinteraksi dengan kawan-kawan di lembaga politik kedaerahan, terutama karena memandang saya bisa memberikan masukan-masukan.

Namun tugas saya yang terakhir ini, yang baru saya terima beberapa hari yang lalu adalah sebuah amanah luar biasa yang saya tidak menyangka akan dipikulkan ke pundak saya. Walaupun sudah ada beredar kabar-kabar bahwa saya akan menjabat posisi di sebuah partai politik, dan untuk itu saya telah diminta datang untuk menghadiri acara pengumuman, serta sekaligus pelantikan pengurus baru periode 2020-2025. Namun, dengan latar belakang saya yang lebih banyak bekerja di jalur profesi, jabatan ini sangat tidak disangka-sangka.
Ketika acara-acara selama pengumuman berlangsung dan nama-nama sudah mulai disebut, saya hanya menunggu dan ternyata amanah yang diberikan sangat berat yaitu menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera Pekanbaru.

Sudah tentu saya tidak bisa menolak begitu saja, pasti ada dasar kepercayaan, sama seperti saya dapat kepercayaan dari Pak Gubernur. Dan kita ajarkan agar tidak memintanya.

Banyak teman-teman memberikan ucapan selamat ketika berita ini menyebar di berbagai media termasuk di WAG. Saya membalasnya dengan mengatakan ini adalah musibah dan saya mesti mengucapkan innalillah. Beberapa teman kemudian merasa heran, mengapa mengatakan ini musibah dan mengucapkan innalillah? Karena amanah ini berat, jadi ada rasa khawatir kalau nanti tidak bisa menunaikannya. Itulah sebabnya saya harus mengatakan innalillah.

Ternyata itu bukan musibah yang pertama karena beberapa hari setelahnya, saya terjatuh dan tangan saya patah. Namun, alhamdulillah, saya bisa menyikapinya dengan ridho dengan tetap mengatakan innalillah. Dan lebih jauh saya tetap berprasangka musibah ini tidak sia-sia karena pasti ada hikmah disebaliknya. Saya meyakin sedalam-dalamnya bahwa ini adalah cara Allah menghapuskan dosa-dosa saya sebelumnya.

Dengan bekal prasangka baik kepada Allaah, walaupun tugas saya yang ke-lima ini, Insya Allaah dengan pertolongannya Nya saya bisa menunaikannya. Sampai waktunya nanti saya akan memasuki pensiun yang ke-lima pada tahun 2025. Insyaa Allaah. (Hms dpd)

Baca Juga

H. Ahmiyul Rauf Langsung Tancap Gas

Pekanbaru – MUSDA PKS Kab/kota serentak se Indonesia pada tanggal 28 Desember 2020 lalu, membarikan …